CLICK

Kamis, 23 Juni 2011

STAMINA JAGA BOSS

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa membuat suatu perubahan atau peraturan baru lebih sulit dari pada menentangnya.
Stamina vs Resistansi
Kemampuan menciptakan solusi yang kreatif dan inovatif yang memecahkan suatu masalah sudah lama menjadi perhatian kita. Di perguruan tinggi terutama di jurusan bisnis dan management, kita di wajibkan membaca studi studi kasus untuk memupuk kemampuan memecahkan masalah.
Pencarian solusi seharusnya bukan hal sulit bagi kita. Yang membuat kita selalu tersandung adalah bahwa pimpinan tidak mempunyai stamina untuk terus menerus mengawasi pelaksanaan di tingkat operasional.
Kita bisa ambil contoh untuk kendaraan bermotor seharusnya mengambil lajur kiri. Memang kita menuruti peraturan itu tapi bila kita di awasi oleh polisi. Bila tidak ada polisi kita akan seenaknya saja memakai jalanan. Dan ini juga akibat tidak seimbanganya antara polisi dan pengendara motor. Sehingga masyarakat akan banyak yang melanggar.
Di dunia bisnis kendala yang di hadapi tidaklah beda. Dalam sebuah industri sering muncul ide-ide cemerlang untuk mengatasi masalah yang berlangsung lama. Ambillah e-procurement, konsepnya sangat menarik, yaitu pemanfaatan teknologi untuk memaksimalkan efisiensi. Yang biasanya menjadi faktor penghambat adalah pihak-pihak yang selama ini mendapat keuntungan dari sistem pengadaan yang konvensional.
E-procurement lalu menjadi ajang tarik menarik antara pimpinan perusahaan yang mengiginkan kontrol, pengendalian biaya dan tranparansi yang lebih baik di satu pihak dan mereka yang menolaknya. Tidak jarang ide yang sebagus ini hanya menjadi ide karena pimpinan tidak punya cukup stamina.
Stamina untuk menerapkan aturan yang baru sangatlah di perlukan, terutama jika ada salah satu pihak yang di rugikan. Pimpinan dituntuk memiliki stamina yang luar biasa untuk kesuksesan perubahan. Sayangnya, stamina pemimpin jauh lebih sedikit di bandingkan yang menentangnya.
Ketika baru menduduki jabatanya, seorang presiden direktur biasanya begitu menggebu-gebu dengan berbagai sasaran muluk. Namun, dengan seiring waktu kegarangannya mulai meluntur. Akhirnya pihak yang resisten menang dan kembali kepada peraturan-peraturan lama.

Empat Prinsip Sukses
Pertama, kiata harus lebih menfokuskan pada eksploitasi aset dan kapabilitas yang sudah ada dan baru mengejar inovasi bila semuanya itu telah kita manfaatkan sepenuhnya. Kedua, kita tidak boleh melupakan kesalahan kita di masa lampau. Seperti pepatah yang mengatakan “jangan lah jatuh pada lubang yang sama”. Ketiga, kita harus berhati-hati dalam melakukan perubahan, karena “great companies” jarang melakukan perubahan yang radikal. Kecuali jika kita siap menanggung semua resikonya. Karena setiap perbuatan pasti ada resikonya. Prinsip keempat, yang tidak relevan pada pembawa perubahan adalah diversifikasi.
Tentu saja semua prinsip ini menjadi tidak penting jika yang di cari adalah keberhasilan jangka pendek. Dan celakanya, kita lebih sering terobsesi oleh sasaran-sasaran jangka pendek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar